Urban News

Penyuluh Pertanian Mamasa Wakili Indonesia ke India

Penyuluh Pertanian Indonesia, Harming saat berada di India

Jakarta, URBAN NEWS INDONESIA – Tujuh perwakilan penyuluh pertanian dari tujuh pulau besar di Indonesia berkunjung ke India dalam rangka melakukan studi banding terkait pengembangan teknologi informasi. Keberangkatan 7 penyuluh Indonesia ini dilepas oleh Kepala Pusluhtan, Siti Munifah di Jakarta, mewakili Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian RI Momon Rusmono pada Minggu (16/06/2019).

Harming menjadi salah satu penyuluh wanita yang berasal dari Kabupaten Mamasa, Provinsi Sulawesi Barat ikut menjadi peserta studi banding ke India. Keikutsertan Harming mawakili Pulau Sulawesi setelah dirinya ditunjuk oleh Gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah di hadapan Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman dalam sebuah acara pertemuan di GOR Sudiang Makassar, Sulsel pada Rabu (10/4/2019) lalu.

Dari awal Harming yang memang dipersiapkan mewakili Kabupaten Mamasa untuk menyampaikan beberapa aspirasi penyuluh pertanian Mamasa kepada Menteri Amran Sulaiman. Pada suatu kesempatan, dengan percaya diri, Herming mengangkat tangan saat diminta perwakilan Sulawesi, sehingga Gubernur Nurdin Abdullah langsung memberinya rekomendasi yang juga disambut hangat oleh Mentan karena Amran menganggap Sulawesi Barat sebagai provinsi muda dan Mamasa merupakan daerah pertanian yang jarang terekspos.

Terpilihnya Harming diantara ribuan peserta perwakilan Sulawesi saat itu merupakan prestasi sekaligus bonus yang pantas didapatkan. Pasalnya, Harming sudah mengabdikan diri menjadi Tenaga Harian Lepas Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL-TBPP) sejak tahun 2008 hingga 2015 di Kecamatan Bumal dan Tabulahan, lalu ia terangkat menjadi PNS melalui jalur K2 pada tahun 2015 hingga 2019 ini dengan pangkat golongan 3a.

Selain mendapat kejutan hadiah keluar negeri dari Mentan, Harming juga telah berhasil menyampaikan aspirasi penyuluh dan pelaku pertanian dari Kabupaten Mamasa yakni: meyampaikan agar status kedudukan penyuluh dikembalikan ke Kementan, permohonan kendaraan dinas bagi penyuluh, Pakaian Dinas Penyuluh, Peningkatan SDM, serta hal yang berkaitan dengan nasib para K2 penyuluh yang tidak dapat diangkat jadi PNS atau menjadi tenaga kontrak PPPK penyuluh karena tidak dibuka oleh pemerintah daerah Mamasa, dan beberapa catatan lain yang telah diterima oleh Kepala BPPSDMP Kementerian Pertanian RI Momon Rusmono.

“Menteri Pertanian memberikan apresiasi atas kinerja para penyuluh dan peneliti di Indonesia, sehingga memberikan bonus kepada perwakilan penyuluh dan peneliti pertanian untuk melakukan studi banding ke India. Negara India dipilih sebagai objek studi banding karena merupakan salah satu negara terbaik di dunia dalam pengembangan teknologi informasi (IT) di sektor pertanian,” ungkap Harming saat ditemui awak media URBAN NEWS INDONESIA di Jakarta (22/06/2019) saat kembali dari India.

Lebih lanjut, penyuluh pertanian dari Dinas Pertanian Kabupaten Mamasa ini menjelaskan, tujuan studi banding ini sebagai upaya Kementerian Pertanian RI mengembangkan IT pertanian khususnya Big Data Pertanian oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian – Kementerian Pertanian RI (BPPSDMP) dengan menggunakan aplikasi Sistem Informasi Manajemen Penyuluhan Pertanian (Simluhtan) oleh Pusat Penyuluhan Pertanian (Pusluhtan) di Indonesia kedepan.

“Ada banyak hal yang kami dapatkan saat studi banding ke India mulai dari pengalaman perjalanan hingga ilmu tentang pertanian yang sekiranya dapat diaplikasikan di negara kita,” ungkapnya.

Beberapa hal yang dapat dicontoh menurut Harming diantaranya : (1) struktur organisasi pada Kementerian Pertanian dan Kesejahteraan Petani India memiliki bidang yang khusus fokus mengurus petani atau pertanian secara spesifik; (2) ada bidang penelitian yang khusus bekerja untuk meneliti bibit unggul yang akan ditanam petani; (3) bahan baku yang menjadi produk makanan kebanyakan bersumber dari petani yang kemudian diolah untuk konsumsi dalam negeri dan ekspor India, dan sebagainya.

Menoleh ke belakang, Harming sedikit menyesalkan atas upaya yang ia lakukan untuk bertemu dengan Bupati, Wakil Bupati, dan Sekda Mamasa sebelum ia berangkat ke India, ternyata tidak dapat dilakukan meski telah coba dibantu oleh Kepala Dinas Pertanian Mamasa. Sehingga Harming tidak bisa berdiskusi lebih jauh terhadap pimpinan pemerintah daerah Mamasa sebelum berangkat untuk meminta pandangan-pandangan untuk mengangkat nama Mamasa di dunia internasional termasuk cinderamata identitas Mamasa yang seharusnya bisa dibawah berkunjung ke India sebagai ajang promosi.

“Teman-teman saya semuanya membawa souvenir identitas masing-masing daerahnya yang diunggulkan untuk dipromosikan dan itu mendapat support penuh dari pemerintah daerahnya. Sementara saya hanya membawa souvenir ala kadarnya yang mampu saya beli. Meski demikian, Sepu’ (tas kecil) yang sederhana dengan percaya diri tetap saya selempangkan ke leher Duta Besar Indonesia untuk India saat berkunjung ke kedutaan,” kata Harming terharu.

Harming bersama Duta Besar Indonesia untuk India, Sidharto Suryodipuro

Harming berpendapat, Pemerintah Daerah Mamasa harus memiliki souvenir unggulan beridentitas Mamasa yang dapat dijadikan cinderamata saat tamu dari luar berkunjung ke Mamasa atau sebaliknya seperti yang ia lalui, orang Mamasa berkunjung ke luar negeri. Dengan demikian, nama Mamasa bisa mendunia karena memiliki identitas yang bisa dikenali dengan muda layaknya daerah tetangga Toraja yang terkenal dengan ukiran dan bentuk rumah adatnya yang banyak dibuat dalam miniatur kecil.

Sementara, perwakilan penyuluh Indonesia ke India sebagai utusan Kementerian Pertanian tersebut diantaranya Harming dari Kabupaten Mamasa – Sulawesi Barat mewakili Pulau Sulawesi, Martias Suka dari Kabupaten Mimika – Provinsi Papua, Nurisma dari Provinsi Aceh mewakili Pulau Sumatera, Krisdiyanto dari Kabupaten Banyuwangi – Jawa Timur, Matilde Aso dari Kabupaten Nagekeo – Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mewakili Bali Nusa Tenggara, Imam Rokhimin dari Kalimantan Utara, Kadri Hasim dari Halmahera Timur – Provinsi Maluku Utara mewakili Kepulauan Maluku.  [UNI/Mrs]

Related Posts