Urban News

Masalah Kesehatan dan Kemiskinan di Mamasa Kembali Muncul Ke Publik

Masalah Kesehatan dan Kemiskinan di Mamasa Kembali Muncul Ke Publik

Mamasa, URBAN NEWS INDONESIA – Satu persatu potret kemiskinan di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat terus bermunculan ke pemberitaan media massa baik melalui layar televisi maupun media berbasis online.

Belum hilang dari ingatan publik kisah menyedihkan Misar (15), bocah penderita  gizi buruk di Dusun Kondo, Desa Sepang, Kecamatan Messawa, Kabupaten Mamasa, kini kembali viral masalah kesehatan yang diderita anak kecil di kecamatan lainnya.

Dilansir dari Transtipo (16/04/2018), kisah pilu tersiar kali ini dialami oleh seorang anak bernama Anto’ usia 17 tahun warga Dusun Sarambu, Desa Mesakada, Kecamatan Tanduk Kalua,  Kabupaten Mamasa.

Anto’ dikabarkan mengidap penyakit hydrocephalus — sebuah penyakit atau kondisi adanya penumpukan cairan dalam otak hingga tekanan pada otaknya terus meningkat.

Anto’ merupakan anak dari pasangan Piter dan Levina warga desa Mesakada. Kondisi yang dialami remaja malang ini sangat memprihatinkan lantaran ia hanya bisa terbaring dan tak berdaya pada umurnya yang sudah mulai memasuki masa dewasa.

Badannya nampak mengecil, kurus, tulang tangan dan kakinya nyaris hanya terbungkus kulit. Anto’ tak dapat bergerak normal seperti anak usia 17 tahun pada umumnya.

Kehidupan sehari-hari Anto’, hanya bisa terbaring lemas di lantai, hanya dapat terbangun ketika digendong oleh orang tuanya. Hampir tak ada hal berarti yang dapat dilakukannya selain merenungi nasib dan menanti bantuan tangan orang  lain.

Kondisi kemiskinan yang dialami kedua orang tua Anto’, membuat mereka tak dapat berbuat banyak untuk sang buah hati. Pasangan yang hanya berprofesi sebagai petani tak berpendapatan tetap ini, hanya bisa pasrah menanti keajaiban untuk anaknya.

“Kami tidak pernah membawanya ke rumah sakit karena takut jika dimintai biaya. Kami tidak mampu,” kata Piter, ayah kandung Anto’ sambil berlinang air matanya.

Lebih lanjut Piter menjelaskan, saat ini anaknya tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah setempat kecuali beras sejahtera untuk keluarganya.

“Bantuan tidak ada, kecuali beras sejahtera,” ungkapnya saat ditanya awak media.

Namun, untuk perawatan medis, Anto’ sesekali dikujungi oleh bidan yang bertugas di desanya dengan memberikan bantuan medis ala kadarnya.

Saat dikonfirmasi pada salah satu bidan di desa tersebut, ia menyebutkan biasanya diberikan vitamin termasuk makanan tambahan kepada Anto’.

“Untuk penyakitnya sendiri sudah bawaan sejak lahir,” ungkap sang bidan.

Hingga berita ini diturunkan, belum banyak perhatian lebih dari pemerintah daerah khusus untuk menangani masalah kesehatan yang dialami Anto’. Ia hanya bisa berobat ke posyandu desa saja, akibat ketidakmampuan ekonomi kedua orangtuanya membawa ke rumah sakit daerah setempat. [UNI/EDT].

EDITOR : Redaktur URBAN NEWS INDONESIA
SUMBER : TRANSTIPO.COM (Frendy Christian)

Related Posts