Urban News

Tanggapan BMKG Pusat Jakarta Terkait GEMPA MAMASA

Kepala Sub Bidang Informasi Gempa Bumi BMKG, Nova Heryandoko, S.Si, M.Si., usai diwawancarai Marselinus, Warga Mamasa di Kantor Pusat BMKG Jakarta, pada Jumat (9/11/2018).

Jakarta, URBAN NEWS INDONESIA – Gempa Bumi yang melanda Mamasa, Sulawesi Barat telah terjadi sebanyak 256 kali, terdiri dari 39 kali gempa dirasakan dan 217 kali gempa susulan mulai 3 November hingga 9 November 2018 Pukul 07.00 WITA berdasarkan laporan BMKG Wilayah IV Makassar. Intensitas gempa di Mamasa yang pernah mencapai kekuatan 5.5 Skala Richter itu telah menjadi momok menakutkan ditambah munculnya berbagai isu dan spekulasi yang berkembang di masyarakat hingga membuat ribuan warga Mamasa mengungsi ke daerah yang dianggap lebih aman.

Menanggapi hal itu, salah satu warga Mamasa di Jakarta, Marselinus menyambangi Kantor BMKG Pusat Jakarta untuk menanyakan fenomena gempa yang melanda Mamasa dan sekitarnya. Setelah dua kali berkunjung ke Kantor BMKG, akhirnya bertemu dan mewawancarai langsung Kepala Sub Bidang Informasi Gempa Bumi BMKG, Nova Heryandoko, S.Si, M.Si., di Kantor Pusat BMKG Jakarta, pada Jumat (9/11/2018).

Marselinus Anak Muda dari Mamasa di Kantor BMKG Pusat, Jakarta

Berikut beberapa penjelasan dari BMKG Pusat melalui Nova Heryandoko:

1. Gempa yg terjadi di Mamasa adalah gempa tektonik yaitu gempa akibat pergeseran lempeng bumi. Bukan Gempa Vulkanik gunung berapi.

2. Gempa yg terjadi di Mamasa secara terus menerus (berkali-kali) diakibatkan oleh aktifnya Sesar Saddang yg ada di wilayah Mamasa. Aktifnya Sesar Saddang ini diduga diakibatkan oleh terjadinya gempa besar di Palu beberapa saat lalu yg mengakibatkan Tsunami di Palu dan sekitarnya. Sesar adalah suatu patahan yg bergerak sehingga mengakibatkan gampa.

3. Secara geografis Mamasa berbeda dengan Palu. Mamasa berada di dataran tinggi sedangkan Palu berada di dataran rendah. Susunan tanah dan batuan di Mamasa sangat rapat dan kuat serta tidak bercampur dengan air karena berada di dataran tinggi, berbeda dengan kondisi tanah di Palu. Sehingga Gempa di Mamasa tidak berpotensi mengakibatkan Likuifaksi. Tidak benar juga jika ada isu yg mengatakan wilayah Gempa Mamasa akan roboh ke dalam bumi, itu tidak akan terjadi.

4. Gempa di Mamasa tidak berpotensi mengakibatkan likuifaksi tapi berpotensi mengakibatkan longsor pada tebing. Sehingga masyarakat yg bertempat tinggal di sekitar tebing akan lebih aman jika berpindah sementara ke tempat yang tidak berpotensi longsong jika terjadi gempa. Tempat yang aman seperti lapangan atau hamparan luas yang tidak berpotensi adanya longsor dari atas atau ke bawah.

5. Semakin dekat ke titik gempa maka akan semakin terasa getarannya, namun masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan tetapi tetap waspada. Gempa di Mamasa sebenarnya tidak berbahaya kalau tidak berada di dalam ruangan atau bangunan, sehingga masyarakat dihimbau untuk tidak tinggal di dalam rumah hingga intensitas gempa tidak terjadi lagi. Kalau berada di tempat terbuka seperti memasang tenda di luar rumah atau lapangan akan lebih aman untuk menghindari potensi runtuhnya bangunan atau kejatuhan material-material bangunan. BMKG belum memiliki dasain rumah yang tahan gempa, namun pada umumnya rumah kayu atau rumah panggung lebih aman dari gempa.

6. Gempa darat di Mamasa tidak akan mengakibatkan terjadinya Tsunami di dataran rendah seperti Polewali, Majene, dan sekitarnya. Pada umumnya Tsunami terjadi jika titik gempanya berada di dasar laut. Gempa tektonik di laut yang berpotensi Tsunami bila kuatannya bermagnitudo 7 Skala Richter ke atas.

7. Pihak BMKG Pusat Jakarta telah menugaskan tim survei dari BMKG Wilayah IV Makassar ke Mamasa untuk  memberikan edukasi dan sosialisasi terkait gempabumi dan sekaligus standby untuk melakukan investigasi dan laporan atas gempa di Mamasa. Pihak BMKG Pusat terus memantau dan menaruh perhatian kepada Mamasa. Operator di Kantor BMKG Pusat juga aktif 24 Jam disertai dengan teknologi yang memadai sehingga bila terjadi gempa, dapat diakses oleh masyarakat secara cepat baik melalui website resmi www.bmkg.go.id maupun melalui akun sosial media BMKG di Facebook, Twitter, atau Instagram.

8. Intensitas gempa kedepan belum bisa diprediksi kapan berakhirnya karena masih mencari kestabilan kembali di dalam tanah. Setelah tanah kembali stabil atau tersusun rapat kembali maka intensitas gempa juga akan berangsur berkurang hingga tidak terjadi gempa lagi.

9. Masyarakatnya di Mamasa dihimbau tetap mengikuti arahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan pemerintah setempat serta tetap mengakses berita terkini dari sumber-sumber terpercaya termasuk info BMKG.

10. Masyarakat tidak perlu terlalu takut, namun tetap waspada seraya Berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing agar Gempa Bumi di Mamasa segera berakhir dan masyarakat boleh kembali melakukan aktivitasnya secara normal.

Nova Heryandoko juga mengaku pernah bertugas ke Mamasa, Sulawesi Barat sehingga ia mengetahui kondisi di Mamasa. Pihaknya juga turut prihatin atas peristiwa gempa bumi yang melanda Mamasa dan sekitarnya.

Lebih jauh, dilansir dari media lokal Mamasa Dalam Berita (MDB), pemerintah Kabupaten Mamasa melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) merilis jumlah pengungsi Mamasa akibat gempa mencapai 15.266 jiwa. Pengungsi ada yang tinggal pada 8 Kecamatan di Kabupaten Mamasa sejumlah 14.886, sedangkan pengungsi di luar Kabupaten Mamasa sejumlah 380 jiwa yang telah terdata hingga Jumat (9/11/2018).

Pihak Pemerintah Kabupaten Mamasa sendiri melalui Bupati Mamasa H. Ramlan Badawi telah menetapkan Surat Penetapan Siaga Darurat Pengungsi pada tanggal 7 November 2018. Pihak pemerintah Provinsi Sulawesi Barat juga telah menetapkan status Tanggap Darurat Bencana dengan membuat surat Himbauan Pemberian Bantuan Korban Gempa Bumi Kabupaten Mamasa pada tangga 9 November 2018. [UNI/Tim] 

Related Posts