Urban News

Pertahanan Udara Kuat Kunci Perang Modern Masa Kini

Mantan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) periode 2015-2017, Marsekal TNI (Purn.) Agus Supriatna. (ANTARA/Asep Fathulrahman).

JAKARTA, URBAN NEWS INDONESIA –  Mantan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) periode 2015-2017, Marsekal TNI (Purn.) Agus Supriatna mengapresiasi langkah Presiden Joko Widodo “Jokowi” memperkuat pertahanan udara NKRI. Agus merespon positif keputusan Jokowi memilih jet tempur jenis Sukoi Su-35 sebagai alutsista baru berteknologi canggih buatan Rusia.

Meski sudah pensiun, namun sebagai mantan pilot multi talenta dan ahli strategi udara, Agus masih memiliki pengaruh besar di keluarga TNI-AU. Ia kerap dimintai pertimbangan dalam memutuskan langkah strategis terkait alutsista pertahanan udara, termasuk pembelian Sukoi Su-35 ini. Berikut tajuk opini yang ditulis Marsekal TNI Agus Supriatna melalui Editor.id, Jumat, (28/7/2017):

Presiden Joko Widodo dalam sidang kabinet terbatas pada hari Rabu 27 Juli 2017 memutuskan akan mendatangkan jet tempur tipe Sukhoi Su-35 untuk menggantikan jajaran Skadron F-5 E/ F Tiger yang sudah harus pensiun. Keputusan strategis dan bijak dari pemimpin negara ini patut mendapat apresiasi. Keputusan ini menunjukkan beliau sangat konsisten. Penulis paham betul kehandalan pesawat jet terbaru buatan Rusia jika dikaitkan kebutuhan alutsista pertahaan udara tanah air.

Kondisi geografis Indonesia tentu tidak dapat dilepaskan dari ruang udaranya, Kontrol ruang udara ini dirasakan masih kurang. Masih banyak terjadi pelanggaran-pelanggaran ruang udara Indonesia yang dilakukan oleh asing, seperti pelanggaran-pelanggaran ruang udara Indonesia yang dilakukan oleh asing, seperti pelanggaran batas udara maupun pengintaian terhadap aset negara yang dilakukan dari udara.

Sementara itu, fasilitas pengamanan udara Indonesia masih butuh untuk dikembangkan karena Indonesia masih tertinggal jauh dari negara-negara lain.

Jika merujuk kepada Rencana Strategis TNI AU, maka kebutuhan alutsista antara lain (1) Penggantian pesawat tempur F-5E/ F Tiger II dengan beberapa pilihan antara lain Sukhoi SU-35 Super Flanker, F-16 Viper, JAS 39 Gripen, atau Dassault Rafale. (2) Pemutakhiran pesawat latih jet T-50i dari Korea Aerospace Industry Korea Selatan. (4) Penambahan pesawat latih dasar Grob G-120TP buatan Jerman. (5) Penambahan pesawat latih KT-IB Wong Bee. (6) Pengadaan helikopter angkut berat Agusta Wetsland AW 101 Merlin.

Adapun Kohanudnas dalam rencana strategis yang disusun tahun 2009 merumuskan tiga aspek dalam pengembangannya ke depan yaitu, Pertama, Aspek Penyempurnaan Doktrin Hanud, yaitu wewenang tugas dan tanggung jawab Kohanudnas yang terus berkembang sejalan dengan perkembangan zaman perlu mendapatkan payung hukum dalam bentuk Undang-Undang karena berkaitan dengan dunia Internasional yang berimplikasi terhadap keuangan negara.

Kedua, Aspek Organisasi yaitu dengan memperhatikan wilayah tanggung jawabnya mencakup luas wilayah udara kedaulatan Republik Indonesia dari Sabang hingga Merauke maka sudah sewajarnya jika organisasinya disesuaikan kembali dengan kepemimpinan seorang Perwira Tinggi berbintang tiga dan selanjutnya disesuaikan pada jajaran dibawahnya.

Ketiga, Aspek Alutsista meliputi (1) Penambahan dan modernisasi Radar dan sistem komunikasinya sehingga seluruh wilayah udara nasional tercover secara utuh (zero blind spot). (2) Pembentukan Wing Baru Sergab dengan komposisi setiap Kosekhanudnas memiliki satu skadron, dengan total 64 pesawat baru Sergab, dan dengan asumsi jika setiap skadron dapat menyiapkan 3 pesawat baru sergap maka pada pangkalan udara depan akan tergelar 12 pesawat yang siap melakukan penindakan terhadap pelanggaran wilayah udara.

(3) Membentuk Wing Rudal jarak menengah dengan disposisi 1 skadron dimasing-masing Kosekhanudnas dimana pada saat adanya peningkatan eskalasi dan tiap skadron dapat menyiapkan 4 flight rudal maka akan tergelar 16 satuan rudal sebagai Hanud titik.

(4) Meningkatkan kemampuan sistem Command Control Computer, Communication Inteligence Surveillance and Reconnaisance (CAISR) baik Transmission Data Air Situation (TDAS) maupun Skykeeper.

Diharapkan melalui pemenuhan kebutuhan tersebut, setiap jengkal wilayah udara nasional akan selalu terjaga dari upaya-upaya para pihak yang tidak bertanggung jawab sehingga seluruh agenda pembangunan dapat terselenggara dengan aman dan kondusif.

Perkembangan lingkungan strategis telah semakin berdinamika dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Berbagai dinamika sosial, ekonomi, politik, dan keamanan telah mempengaruhi sikap dan tindakan negara-negara di dunia. Kejadian-kejadian nasional suatu negara telah memberi pengaruh secara global maupun internasional, begitu pula sebaliknya. Koalisi negara-negara telah semakin kompleks demi menjaga kedaulatan masing-masing negara.

Hal yang demikian juga terjadi di Indonesia berbagai fenomena telah mengubah sikap dan tindakan Indonesia dan tentu saja mempengaruhi lingkungan strategis baik nasional, regional maupun internasional. Terutama dalam globalisasi dan perkembangan teknologi. Ancaman terhadap Indonesia tidak hanya datang dari darat atau laut, tetapi lebih besar lagi melalui udara.

Untuk mengatasi hal ini, tentu saja Indonesia butuh untuk lebih mengembangkan kekuatan pertahan udaranya. Oleh sebab itu, buku ini akan mencoba untuk menjabarkan, menganalisis dan memberi jawaban terhadap permasalahan pertahanan udara Indonesia.

Marsekal TNI Agus Supriatna, (Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Periode 2015-2017).

 

Editor: Marselinus

Related Posts