Urban News

Urbanisasi Berjuang Bersama Masyarakat untuk Perubahan dan Kemajuan Mamasa

Dr. Urbanisasi, SH., MH., Dip.Th., CLA., CIL., sosok dibalik Perjuangan Kolom Kosong Pilkada Mamasa 2018.

Mamasa, URBAN NEWS INDONESIA – Pertanyaan publik terkait siapa tokoh-tokoh dibalik perjuangan demokrasi rakyat Mamasa, Sulawesi Barat nampaknya mulai menemui titik terang. Salah satu sosok dibalik perlawanan politik masyarakat tersebut, yakni Dr. Urbanisasi, SH., MH., Dip.Th., CLA., CIL.

Pengacara sekaligus pengusaha sukses di Jakarta ini hadir menawarkan konsep perubahan dan kemajuan Kabupaten Mamasa yang dimulai dari perjuangannya membela masyarakat. Melalui momen Pilkada Mamasa 2018 yang hanya diikuti oleh calon tunggal, Urbanisasi memilih berada di garda terdepan menentang dominasi dan kezaliman politik yang menurutnya dilakukan oleh oknum tertentu.

Putra daerah kelahiran Mambi, Kabupaten Mamasa yang sudah malang melintang di dunia hukum dan politik itu, berani mengambil resiko berhadapan dengan penguasa demi kepeduliannnya terhadap masyarakat dan daerah yang dicintainya. Urbanisasi lebih memilih sikap berseberangan dengan penguasa Kabupaten Mamasa yang juga calon tunggal Pilkada Mamasa, Ramlan Badawi, meski secara hubungan emosional keduanya dulu pernah dekat.

Urbanisasi bergabung bersama para tokoh Mamasa dalam Presidium Laskar Kotak Kosong (Koko) untuk berjuang memenangkan Kolom Kosong pada Pilkada Serentak 2018 yang diikuti Kabupaten Mamasa. Ia salah satu tokoh penggerak massa di Kabupaten Mamasa dan “pengawal” perjuangan rakyat Mamasa melawan penguasa dari sisi hukum.

Saat ditanya mengenai tujuannya bergabung ke Tim Laskar Kotak Kosong, jawabannya yaitu perubahan dan kemajuan. “Hanya satu saya ingin Mamasa maju dan berubah, sebagai putra daerah saya merasa terpanggil dan harus membantu warga disana,” jawab Doktor Hukum jebolan Universitas Hasanudin Makassar ini.

Tak ada sebersitpun niat Urbanisasi membonceng gerakan ini atau punya agenda politik tertentu dalam perjuangangannya membela rakyat Mamasa yang “dipaksa” memilih calon tunggal Bupati dan Wakil Bupati. Bahkan tak ada sedikitpun dalam benak Urbanisasi niat untuk berambisi mengejar kekuasaan dan politik. Hal ini terbukti saat ditawari beberapa partai politik untuk maju ke DPR RI, ia menolak sebagai komitmennya kepada masyarakat.

“Saya tak berminat dalam politik mengejar kekuasaan, niat saya hanya ingin membantu Rakyat Mamasa agar nasib mereka berubah, agar daerah ini maju dan sejahtera maka dibutuhkan perubahan, perubahan untuk memiliki pemimpin yang baru,” tegas Direktur Lembaga Sertifikasi Profesi Pengacara Indonesia ini.

Urbanisasi sangat peduli dan prihatin dengan kondisi di Mamasa yang masih terbelakang dan pembangunan jalan hanya jalan ditempat menurutnya. Sebagai putra daerah, dirinya merasa terpanggil untuk membantu saudara-saudaranya merubah kondisi di Mamasa.

“Terus terang saya marah, saya menangis melihat realita ditengah masyarakat, saya mendengar keluh kesah dan sedih mereka,” ungkap Urbanisasi menyampaikan curahan hatinya.

Urbanisasi merasa berkewajiban membela rakyat Mamasa manakala warga merasakan berbagai kebohongan, ketidakjujuran dan dizalimi oleh penguasanya sendiri.

“Dana APBD yang masuk dikelola dengan tidak adil sehingga kemajuan daerah tidak terbangun, daerah ini tidak ada perubahan dari dulu hingga sekarang tetap seperti ini, banyak warga mengalami kesulitan mendapatkan pekerjaan, saya jadi geram banget,” kata Dosen Tetap Fakultas Hukum Universitas Tarumanagara (UNTAR) Jakarta ini kepada awak media.

Pria pemberani ini tidak gentar resiko intimidasi yang harus ia hadapi dari penguasa, jika ia membela rakyat. Baginya pengalaman mengalami teror sudah menjadi warna dalam hidupnya sebagai pengacara di Jakarta ketika melawan kekuatan besar. Urbanisasi mengaku ia justru tertantang untuk membela rakyat Mamasa yang merindukan keadilan dan berjuang menghidupkan demokrasi.

Ia mengambil resiko melawan penguasa Mamasa meski dirinya juga “dikawal” banyak kelompok masyarakat di Mamasa. Dirinya terlihat dicintai oleh masyarakat karena perjuangannya dari desa terpencil hingga memiliki segudang prestasi, serta terbilang masih sangat dipercaya oleh masyarakat.

Yang membuat Urbanisasi makin prihatin pola kepemimpinan penguasa saat ini yang menurutnya otoriter. “PNS diancam, kades diancam untuk mempengaruhi dan menakut-nakuti warga yang menolak dan melawan kepemimpinannya, ini sangat tidak bermoral,” papar pengacara yang pernah membela Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok ketika memperjuangkan keadilan.

Urbanisasi menilai selama tujuh tahun petahana berkuasa di Kabupaten Mamasa, tidak ada pembangunan signifikan yang terlihat. Pembangunan yang nampak menurutnya hanya jalan nasional yang status pembiayaannya bersumber langsung dari APBN, namun sering diklaim sebagai kesuksesan pemerintah daerah.

“Ini yang membuat kami masyarakat Mamasa prihatin dan ingin melakukan perubahan, kami ingin berbuat sesuatu yang terbaik buat warga Mamasa,” tutur pria yang hari ini merayakan Ulang Tahunnya yang ke 47 Tahun di Kota Mamasa.

Urbanisasi menilai kemenangan Kolom Kosong yang sah disediakan oleh negara berdasarkan Undang-undang untuk melawan calon tunggal, menjadi momentum awal perubahan dan kemajuan di Mamasa. Kemangan masyarakat yang mengisi Kolom Kosong sebagai kesempatan untuk melakukan Pilkada Ulang dengan memilih calon pemimpin baru yang dianggap dapat mewakili kepentingan masyarakat untuk pembangunan dan kemajuan Mamasa kedepan.

Keseriusan Urbanisasi berjuang bersama Tim Laskar Kotak Kosong Pilkada Mamasa terbukti melalui dirinya intensif mengikuti sosialisasi Kolom Kosong menjadi pembicara dan membawakan seminar hukum dan politik. Bahkan ia juga memilih OFF dari segala aktivitasnya di Jakarta selama 1 bulan lebih untuk tinggal di Mamasa hingga Pilkada Mamasa 2018 selesai.

Selamat Ulang Tahun Dr. Urbanisasi, SH., MH., Dip.Th., CLA., CIL. Semoga di ulang tahun Ke-47 ini mendapat hadiah yang istimewa dari hasil perjuangan bersama Masyarakat Mamasa. [UNI/Marchel].

Sumber : Editor.id (03/06/2018)

Related Posts